Om Swastiastu
Tahun 2019 ditandai dengan keberhasilan tim pertama asal Bali menjuarai kompetisi level tertinggi di Indonesia. Keberhasilan Bali United menempatkan Bali di tempat terhormat sebagai salah satu kutub kekuatan sepakbola nasional. Walaupun sebelumnya pulau Bali telah memiliki wakil di kompetisi tertinggi nasional lewat Caprina Bali FC, Gelora Dewata, Perseden Denpasar dan Persegi Gianyar. Tetapi Caprina, Perseden dan Persegi baru dianggap sebagai kuda hitam dan bukan tim yang bisa bersaing meraih juara. Pengecualian adalah Gelora Dewata yang pada Ligina I-IV bisa dianggap sebagai salah satu tim kandidat juara, tetapi sayangnya selalu tersingkir di babak-babak akhir.
Tahun 2019 ditandai dengan keberhasilan tim pertama asal Bali menjuarai kompetisi level tertinggi di Indonesia. Keberhasilan Bali United menempatkan Bali di tempat terhormat sebagai salah satu kutub kekuatan sepakbola nasional. Walaupun sebelumnya pulau Bali telah memiliki wakil di kompetisi tertinggi nasional lewat Caprina Bali FC, Gelora Dewata, Perseden Denpasar dan Persegi Gianyar. Tetapi Caprina, Perseden dan Persegi baru dianggap sebagai kuda hitam dan bukan tim yang bisa bersaing meraih juara. Pengecualian adalah Gelora Dewata yang pada Ligina I-IV bisa dianggap sebagai salah satu tim kandidat juara, tetapi sayangnya selalu tersingkir di babak-babak akhir.
Berbeda dengan minimnya gelar bagi tim asal Bali, pemain sepakbola asal Bali telah mewarnai persepakbolaan nasional sejak lama.Baik di timnas ataupun di klub-klub papan atas Galatama dan Perserikatan. Penulis sendiri lahir pertengahan dekade 1970-an dan tinggal di Malang/Surabaya serta mulai mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia di awal dekade 1980-an. Nama-nama pemain asal Bali yang terkenal pada masa tersebut, antara lain I Wayan Diana, AA Rae Bawa, dan I Gusti Putu Yasa yang bermain di Niac Mitra dan Persebaya.
Serial pemain-pemain legendaris asal Bali berikut ini adalah sedikit sumbangan penulis pada persepakbolaan nasional dan Bali khususnya. Semoga bisa membantu generasi yang lebih muda untuk mendapatkan gambaran kehebatan pemain-pemain asal Bali di dekade 80-an, 90-an,2000-an, dan 2010-an. Semoga perkembangan sepakbola di Bali juga akan ditandai dengan lahirnya pemain-pemain legendaris asal Bali generasi berikutnya yang turut memberi warna persepakbolaan nasional.
Sebenarnya penulis ingin memulai serial ini dengan menapilkan profil I Wayan Diana sebagai pemain Bali tertua yang penulis ingat, tetapi minimnya data tentang beliau maka untuk edisi pertama ini penulis mengangkat nama I Komang Mariawan. yang datanya kebetulan lebih mudah didapatkan. Kebetulan beliau adalah putra asli banjar Gemeh yang bertetangga dengan banjar Suci tempat tinggal orang tua penulis di Denpasar.
Om Shanti Shanti Om
I Komang Mariawan
I Komang Mariawan adalah putra asli Denpasar. Putra dari I Ketut Anom dan Ni Wayan Nursini ini lahir pada 19 Maret 1976. Rumah keluarganya yang berada di banjar Gemeh membawanya berlatih ke klub setempat, yaitu PS Suci, klub amatir anggota dari divisi utama Perseden Denpasar. Awalnya berposisi sebagai gelandang, adalah pelatih Perseden Denpasar dan Popnas Bali Sutrisno, yang pertama kali menempatkan Komang sebagai targetman.
Kesuksesan Komang membawa Perseden lolos ke semifinal divisi I Ligina III menarik minat Andi Lala pelatih Persikota Tangerang, tim yang berhasil lolos ke divisi utama Ligina IV. Perpindahannya sangat disesalkan publik sepakbola Denpasar karena saat itu Perseden sedang berjuang untuk kembali berlaga di level tertinggi perspeakbolaan nasional. Tetapi Komang bergeming, baginya untuk mengembangkan karirnya, ia harus berani merantau dan mencoba peruntungan di klub di luar Bali. Di Ligina IV permainannya tidak mengecewakan, bertandem dengan Musa Kallon, lebih dari sepuluh gol ia lesakkan.
I Komang Mariawan adalah putra asli Denpasar. Putra dari I Ketut Anom dan Ni Wayan Nursini ini lahir pada 19 Maret 1976. Rumah keluarganya yang berada di banjar Gemeh membawanya berlatih ke klub setempat, yaitu PS Suci, klub amatir anggota dari divisi utama Perseden Denpasar. Awalnya berposisi sebagai gelandang, adalah pelatih Perseden Denpasar dan Popnas Bali Sutrisno, yang pertama kali menempatkan Komang sebagai targetman.
sumber foto: website Arema
Kesuksesan Komang membawa Perseden lolos ke semifinal divisi I Ligina III menarik minat Andi Lala pelatih Persikota Tangerang, tim yang berhasil lolos ke divisi utama Ligina IV. Perpindahannya sangat disesalkan publik sepakbola Denpasar karena saat itu Perseden sedang berjuang untuk kembali berlaga di level tertinggi perspeakbolaan nasional. Tetapi Komang bergeming, baginya untuk mengembangkan karirnya, ia harus berani merantau dan mencoba peruntungan di klub di luar Bali. Di Ligina IV permainannya tidak mengecewakan, bertandem dengan Musa Kallon, lebih dari sepuluh gol ia lesakkan.
Bertubuh tinggi untuk ukuran
pemain sepakbola di Indonesia (183cm), Komang bukanlah tipe striker yang mengandalkan teknik tinggi untuk meliuk-liuk melewati lawan. Ia lebih dikenal sebagai striker yang kuat dalam duel dan merupakan seorang penyelesai yang handal
di kotak penalti. Seperti idolanya Marco van Basten dan Ricky Yacobi. Bernhard
Schumm, pelatih timnas Indonesia di SEA Games 1999, memujinya sebagai striker
terkuat di Asia Tenggara saat itu dan memberinya kesempatan mengikuti seleksi
timnas SEA Games 1999. Sayang walaupun menyukai tipikal Komang tetapi Schumm
sendiri akhirnya lebih memilih tiga striker senior yaitu Kurniawan Dwi Julianto,
Rochy Putiray, dan Widodo C. Putro serta seorang pemain muda berusia 19 tahun
yang di kemudian hari akan menjadi legenda sepakbola Indonesia, Bambang
Pamungkas.
Tidak terpilih di timnas SEA
Games 1999, tidak berarti karir Komang menurun di liga Indonesia. Beberapa klub
besar seperti PSPS Pekanbaru, PKT Bontang, Arema Malang, dan Persik Kediri
pernah ia perkuat. Panggilan pelatnas pun kembali diraih Komang untuk timnas
Piala Asia 2000. Klub profesional terakhir Komang adalah Deltras Sidoarjo, kemudian
ia kembali ke Bali dan mulai meniti karir kepelatihan. Saat ini ia telah
mengantongi lisensi C dari AFC dan mencoba membantu klub pertamanya Perseden
Denpasar kembali ke level tertinggi sepakbola Indonesia. Walaupun sudah meniti
karir sebagai pelatih Komang saat ini tetap aktif bermain di klub amatir Mitra
Devata.



No comments:
Post a Comment